Six Months Without Social Media!

Mei 17, 2017


Media sosial seakan sudah menjadi kebutuhan utama manusia. Jika diurutkan kebutuhan manusia dari sandang, pangan, dan papan. Media sosial sudah berada sejajar dengan kebutuhan sandang. Seolah manusia tidak akan bisa hidup tanpa media sosial. Sebelum makan harus update, liburan update, berada di suatu tepat hits update, di sepanjang jalan cek sosmed, dan banyak lainnya. Semua orang terlihat seperti kecanduan media sosial. 

Agaknya manusia sudah sampai pada tahap diperbudak oleh teknologi. Sedih rasanya di setiap perjalanan saya menggunakan transportasi umum selalu melihat pemandangan generasi menunduk. Orang-orang sekarang lebih senang menundukkan kepalanya dan membuka smartphonenya untuk bermain media sosial. Beda dengan sepuluh tahun yang lalu, jika saya berada di transportasi umum orang-orang lebih suka sibuk dengan buku bacaannya yang selalu dibawa atau membaca koran harian. 

Kehidupan sosial berubah drastis dalam sepuluh tahun terakhir ini. Mudah sekali mengetahui kehidupan seseorang dengan melihat media sosialnya. Bahkah hanya dengan mengetik nama lengkapnya saja di mesin pencarian Google kalian sudah bisa mengetahui hampir segala informasi pribadinya. 

Dari segala keresahan ini akhirnya saya memutuskan untuk menutup semua media sosial yang pernah saya gunakan, kecuali Facebook (namun saya sudah jarang membukanya). Saya tidak menutup akun Facebook karena akun itu sudah berdiri semenjak saja berada di sekolah menengah pertama, banyak sekali kontak teman-teman saya dari kecil sampai dengan kontak dosen-dosen saya yang cukup penting.

Akhirnya pada awal bulan Desember 2016, saya menghapus segala media sosial populer seperti Instagram, Path, Twitter, dan Ask fm. Kegerahan ini semakin menjadi ketika saya mengetik nama lengkap saya di Google, ternyata selama ini terlalu banyak informasi yang sudah saya bagikan ke dunia maya. Saya juga mencoba menghapus segala yang berkaitan dengan saya dalam mesin pencari Google ini karena urusan privasi, termasuk juga mengganti nama domain ini.

Tentu hal ini menyebabkan banyak orang tiba-tiba datang dan bertanya kepada saya. "Nar kemana medsos lu?". "HAHAHAHAHAHA", hanya aku jawab dengan tawa besar. Banyak alasan, tapi aku berusaha menjawab dengan normatif, "Aku sudah jenuh".

Tentu jawaban itu tidak menjawab semua alasan saya minggat dari media sosial. Satu dan lain hal alasan terbaiknya ya memang saya sedang menutup diri enam bulan ke belakang. Bahasa kerennya, "Sedang mencari arti sebuah kehidupan". Pergi dari keruhnya iming-iming dunia yang tidak pernah ada habisnya, pergi dari kicauan manusia-manusia yang senang merusak ketenangan hati dan jiwa.

Istirahat dari media sosial memang fase yang menyenangkan. Ya saya tidak perlu rajin-rajin isi quota internet dan charging gadget. Tapi sesungguhnya ini juga merupakan fase titik balik yang cukup menohok psikis (You know what I meant). Ya begitulah, tapi sekarang aku kembali dan menata ulang hidupku menjadi orang yang lebih baik lagi. Namun harus diakui secara tidak langsung media sosial sudah menjadi tuntutan gaya hidup, maka sulit dilepaskan dalam kehidupan di era millenial ini (maka dari itu saya kembali HAHAHA). Tinggal pintar-pintar saja kita dalam menggunakannya, gunakanlah sosmed untuk hal yang bermanfaat :)

Ada hal lain yang aku temukan sejak pergi dari media sosial. Jika teman-teman pembaca kuliah jurusan komunikasi, masih teringat teori agenda setting? 

“the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it” (McCombs, 1997)

Nampaknya semua orang kini memiliki agenda setting sendiri.  Media sosial bukan lagi hanya digunakan sebagai ajang eksistensi diri, tetapi juga dijadikan agenda pemiliknya. Beberapa orang memiliki tujuan sendiri dalam bersosial media. Coba saja perhatikan galeri instagram orang-orang kini sudah mulai bertema, ada yang sederhana menyajikan foto-foto tentang kesehariannya, foto selfie atau wefie, foto tentang hobinya seperti traveling, fashion, seni, fotografi dan sebagainya. Anda tau dampak dari agenda setting itu? 

Dampaknya Anda bisa terpengaruh dengan agenda yang telah ia tampilkan. Terpengaruh dengan kata-kata yang mereka sampaikan. Terpengaruh dengan opini yang ia giring ke suatu arah. Terpengaruh dengan quotes ala-ala yang sesat. Terpengaruh dengan konten foto yang dibagikan. Terpengaruh foto OOTD yang ternyata itu iklan. Terpengaruh gaya hidup awkarin yang sok kebarat-baratan. Terpengaruh tren slime, squicy, dan fidget spinner yang sampai sekarang belum saya temukan faedahnya apa. 

Selain itu, manusia di media sosial saat ini pasti akan selalu nenunjukkan sisi terbaiknya. Saya bisa katakan apa yang Anda lihat di media sosial seseorang adalah bukan dia dalam arti sesungguhnya. Penggambaran bentuk manusia di media sosial sangat lekat dengan motif dan juga pencitraan diri. Saya harus katakan, semua manusia di media sosial itu "Palsu". Yaps, begitulah komunikasi. Tetap saja komunikasi terbaik adalah komunikasi langsung tatap muka, tanpa perantara dan tidak akan bisa berbohong. Sebohong-bohongnya kalian berbicara, bahasa tubuh tidak akan bisa berbohong.

Sekian!
Terima kasih sudah membaca :)

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe